Selamat Datang di Sistem Informasi Penerbitan (SiPena)
 

Tirta Sakala Tiga

Judul : Tirta Sakala Tiga
Penulis : Indra Agusta
Penerbit : Perpusnas Press
ISBN : 978-623-313-714-0
e-ISBN : 978-623-313-715-7 (PDF)
Halaman : 125
Tahun Terbit : 2023
Penyunting :
Tata Letak :
Desain Cover :
Abstrak : Sumber karya sadur ini merupakan Sêrat Suluk Pawèstri Samariyah, naskah koleksi Yayasan Sastra Lestari. Naskah ini ditulis oleh Sie Siauw Tjong sekitar 1853 – 1923, lalu dicetak di Gemblekan, Surakarta. Naskah berbentuk cetak beraksara Jawa dan berbahasa Jawa. Secara garis besar isi naskah terkait dengan kisah biblikal di Injil Yohanes. Cerita seorang perempuan dari wilayah Samariya memberikan air dari Sumur Yakub kepada Yesus/Isa. Peristiwa ini dicatat penting karena sudah sejak lama wilayah Samariya bermusuhan dengan kaum Yahudi di Galilea maupun di Yudea. Isa dikisahkan nekat melintas wilayah tersebut meski sebenarnya merupakan pamali. Konteks mendasar pengembalian hubungan manusia yang tercerai-berai karena kebencian menjadi esensi utama cerita. Dalam naskah ini pengajaran moral Yesus/Isa kemudian di-Jawa-kan. Mengambil sisi spiritual penting dalam alam berpikir Jawa. Sendang, mata air. Relevansi perumpamaan air suci (tirta amerta) ini ditautkan dengan konsep “air hidup” yang diajarkan oleh Yesus. Sebuah tawaran iman, serta ketenangan batin karena barangsiapa yang meminum ‘air’dari Isa – tentu saja ini sebuah metafora, tidak akan pernah kehausan lagi dalam menjalani hidup. Karya saduran ini mencoba memprosakan tembang dari dalam naskah. Dengan menggabungkannya dengan beberapa kisah air suci yang ada dalam khazanah Jawa seperti Dewa Ruci. Juga menambahi pengertian terkait permusuhan bangsa-bangsa keturunan Ibrahim setelah era Daud dan Sulaiman. Data-data tambahan ini penting supaya makin mengkristalkan jawaban terutama pertentangan orang-orang Samariyah dengan bangsa kelahiran Isa Almasih. Tentu saja sebagai prosa – fiksi, karya ini tidak secara utuh menceritakan ulah kisah Pawestri Samariyah. Sesuai dengan pengertian Saduran dalam KBBI, penulis mencoba merombak tanpa merusak esensi cerita yang sudah termaktub dari dalam naskah. Ada banyak adegan, latar tambahan diluar isi manuskrip guna membangun cerita lebih luas. Semoga alih-wahana ini jadi jalan mengajak generasi lanjut untuk kenal dengan manuskrip Jawa. Dan kelestarian kisah-kisah terwarisan dengan format yang lebih ringan.