Alih Aksara Assitanga Bicaranna Akkarungengé ri Wajo-VT 138

Mohon maaf, tidak tersedia file e-book
Judul : Alih Aksara Assitanga Bicaranna Akkarungengé ri Wajo-VT 138
Penulis : Andi Tenri Bali Baso; Munasriana
Penerbit : Perpusnas Press
ISBN : ISBN dalam proses
e-ISSN : E-ISBN dalam proses
Halaman : 40
Tahun Terbit : 2022
Penyunting :
Tata Letak :
Desain Cover :
Abstrak : Masuknya Islam di Sulawesi Selatan sangat berperan dalam menumbuhkan tradisi tulis, terutama orang Melayu sangat berjasa dalam penulisan naskah-naskah kuno di daerah ini.Naskah kuno pada zaman kerajaan hanya ditemukan di istana dan dimilikioleh para bangsawan tinggi di pusat-pusat kerajaan. Ada petugas khusus dalam birokrasi tradisional yang disebut pallontaraq atau juru tulisiyang secara formal menulis dan mencatat berbagai kejadian dan hal-hal penting yang terjadi di istana. Demikian pula berbagai masalah dituliskan dengan cermat oleh kalangan bangsawan dan intelektual kerajaan yang kesemuanya mendukung tradisi besar. Karya-karya itu berupa catatan harian raja-raja, silsilah, ramalan-ramalan, petunjuk bercocok tanam, tata niaga, undang-undang pelayaran, undang-undang kenegaraan, perjanjian, berbagai kisah, pengobatan, ilmu persenjataan, metode dan teknik perang, pendidikan seks, arsitektur, sejarah, dan sebagainya. Umumnya kerajaan di Sulawesi Selatan memiliki naskah kuno yang berisi tentang sejarah kerajaan. Salah satunya lontaraq yang dinamai akkarungengé yang membahas tentang sejarah/silsilah kebangsawanan dalam suatu kerajaan seperti Gowa, Bone, Sopeng, Luwu, termasuk juga kerajaan Wajo. Perpustakaan Nasional RI juga memiliki naskah kuno tentang akkarungeng yang diberi judul “Assitanga Bicaranna Akkarungengé ri Wajo”. Naskah ini berisi tentang silsilah raja-raja Wajo, catatan harian raja-raja Wajo, adat istiadat serta hukum/aturan di Kerajaan Wajo. Sebagai salah satu bentuk pelestarian terhadap naskah kuno, alih aksara penting untuk dilakukan agar semua masyarakat dapat mengetahui dan memanfaatkan isi dari naskah kuno tersebut.